Kebingungan Orang Tua: Jalan Terjal di Balik Amanah Pendidikan

Kebingungan Orang Tua: Jalan Terjal di Balik Amanah Pendidikan

Pendahuluan

Setiap anak lahir membawa cahaya harapan. Senyumnya menenteramkan hati, tangisnya mengetuk doa, dan setiap langkah kecilnya adalah amanah besar yang Allah titipkan. Tetapi, di balik anugerah itu, tersimpan ujian yang tidak ringan. Orang tua sering kali berdiri di persimpangan kebingungan. Bagaimana mendidik anak dengan benar? Bagaimana menuntun jiwa yang masih lembut, sementara dunia menawarkan begitu banyak godaan?

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mengingatkan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari no. 2409, Muslim no. 1829)

Maka jelaslah, mendidik anak bukan sekadar tugas sampingan. Ia adalah jalan ibadah, ia adalah amanah yang menentukan, bukan hanya bagi anak itu sendiri, melainkan juga bagi orang tua yang mengasuhnya.

Renungan Seorang Ayah dan Ibu

Di malam yang hening, berapa banyak orang tua termenung sambil berbisik dalam hati: Apakah aku sudah mendidik anakku dengan benar?
Apakah kelembutan yang kuperlihatkan akan membuatnya tumbuh rapuh? Ataukah ketegasan yang kuterapkan justru melukai jiwanya?

Setiap anak berbeda. Ada yang keras kepala, ada yang penakut, ada yang mudah berbohong, ada pula yang hidup dalam dunianya sendiri. Dalam menghadapi keragaman itu, orang tua sering bingung. Apakah hukuman adalah jalan? Apakah membiarkan lebih bijak?

Pertanyaan-pertanyaan itu kerap menghantui, sebab kita tahu: kesalahan mendidik di masa kecil sering sulit diperbaiki saat anak telah dewasa. Dan tidak ada luka yang lebih perih bagi orang tua selain menyadari bahwa kelalaiannya dahulu kini berbuah derita.

Jalan Tengah: Kasih Sayang dan Ketegasan

Mendidik anak adalah seni yang membutuhkan keseimbangan. Terlalu lembut bisa menjadikan anak manja. Terlalu keras bisa membuatnya patah. Seorang anak adalah ladang: butuh air kasih sayang untuk menyuburkan, dan butuh pagar ketegasan untuk melindungi.

Anak tidak cukup hanya diberi nasihat. Ia butuh teladan. Ia tidak cukup hanya diingatkan. Ia perlu diajarkan dengan kesabaran. Bila ia jatuh, ia butuh tangan yang mengangkatnya. Bila ia salah, ia butuh bimbingan yang menuntunnya, bukan cambuk yang menyakitinya tanpa arah.

Tantangan Zaman Ini

Dahulu, orang tua telah diperingatkan agar tidak lalai dalam mendidik anak. Namun di zaman ini, tantangan semakin berat. Televisi, gawai, internet, dan media sosial sering kali mengambil alih peran orang tua. Anak bisa menghabiskan berjam-jam di depan layar, sementara hatinya kosong dari Al-Qur’an dan pikirannya jauh dari tujuan hidup.

Tantangan terbesar hari ini adalah bagaimana menjaga anak agar tidak larut dalam dunia maya tanpa kehilangan kehangatan di dunia nyata. Bagaimana menanamkan disiplin tanpa memadamkan semangat bermainnya. Bagaimana mengenalkan dunia, tanpa melepaskannya dari jalan menuju akhirat.

Penutup

Wahai ayah dan ibu, wahai para pendidik, janganlah berputus asa bila kebingungan datang. Kebingungan itu tanda bahwa hati Anda masih hidup, masih peduli, dan masih ingin memperbaiki. Ingatlah bahwa pendidikan anak bukan semata hasil usaha manusia. Ada doa yang mengiringi, ada pertolongan Allah yang menuntun.

Pegang teguh amanah ini. Jangan lalai, jangan menyerah. Karena anak akan menjadi saksi di hadapan Allah: apakah ia dibimbing menuju cahaya atau dibiarkan berjalan dalam kegelapan.

Mari kita panjatkan doa sebagaimana doa para nabi:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Āli ‘Imrān: 38)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk mata, generasi yang shalih, generasi yang kelak membawa doa untuk orang tuanya, dan generasi yang melanjutkan perjuangan Islam dengan hati yang jernih serta jiwa yang kuat.

Hafizh Abdul Rohman, Lc