Anak Adalah Amanah dan Tanggung Jawab

Anak Adalah Amanah dan Tanggung Jawab

Pendahuluan

Anak adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta‘ala karuniakan kepada kita. Mereka adalah amanah sekaligus tanggung jawab yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Jika anak tumbuh dalam kebaikan, mereka akan menjadi penyejuk mata dan amal yang terus mengalir bagi orang tuanya, bahkan setelah orang tua tiada. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Namun sebaliknya, bila anak dibiarkan tanpa bimbingan, mereka bisa menjadi sumber keresahan, bahkan ujian berat bagi orang tua. Karena itulah, Islam menekankan bahwa anak adalah amanah yang besar dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Anak Lahir dalam Fitrah

Setiap anak lahir membawa fitrah, yakni kesiapan untuk bertauhid kepada Allah dan mencintai kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ علَى الفِطْرَةِ، فأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أوْ يُنَصِّرَانِهِ، أوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. al-Bukhari no. 1385, shahih)

Hadis ini menegaskan bahwa anak sejak lahir sudah berada di atas fitrah yang lurus. Orang tua-lah yang sangat menentukan arah pertumbuhan anak, apakah tetap di atas kebenaran atau justru menyimpang.

Tanggung Jawab yang Besar

Mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberi makan, pakaian, dan tempat tinggal. Lebih dari itu, tanggung jawab orang tua mencakup pendidikan akidah, pembiasaan ibadah, pengajaran akhlak, serta penjagaan dari pengaruh buruk. Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (QS. At-Tahrīm: 6)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْؤولَةٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin atas keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas mereka…” (HR. al-Bukhari no. 2409 dan Muslim no. 1829)

Tantangan di Zaman Ini

Para ulama sejak dulu sudah mengingatkan bahayanya kelalaian dalam mendidik anak. Apalagi di zaman kita sekarang, tantangan jauh lebih besar. Televisi, internet, dan media sosial seringkali menjadi “guru” yang salah arah. Anak bisa kecanduan layar, lalai dari kewajiban, dan kehilangan kendali atas waktunya.

Karena itu, orang tua harus lebih serius menjaga anak-anak. Tidak cukup hanya membuat aturan, tapi juga memberi teladan, mendampingi, dan hadir dengan penuh kasih sayang.

Doa: Senjata Terkuat Orang Tua

Selain usaha nyata, doa adalah senjata paling kuat bagi orang tua. Para nabi berdoa memohon keturunan yang shalih, seperti doa Nabi Zakaria:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Āli ‘Imrān: 38)

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa agar anak terhindar dari gangguan setan sejak sebelum mereka lahir. Ini menunjukkan betapa doa adalah bagian penting dari pendidikan.

Penutup

Anak adalah amanah besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Mereka bisa menjadi penyejuk mata dan penyelamat bagi orang tua jika dididik dengan benar, atau justru menjadi ujian berat bila diabaikan. Tugas kita bukan sekadar memenuhi kebutuhan lahiriah mereka, tapi juga membentuk akidah, membiasakan ibadah, mendidik akhlak, dan mendampingi dengan penuh cinta.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, penyejuk mata, dan penerus perjuangan Islam. Semoga kita semua dimampukan menunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya, sehingga menuai kebahagiaan di dunia dan pahala yang berlipat di akhirat.

Artikel ini ditulis oleh Hafizh Abdul Rohman, Lc. berdasarkan artikel berbahasa Arab yang dimuat di Alukah.net.